Ekosistem Pertanian Kawasan PG.Madukismo
Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tidak akan jauh dari lingkungan hidup. Lingkungan merupakan salah satu faktor penting untuk bertahan hidup khusunya bagi makhluk hidup. Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (UU. No. 23/1997). Sekarang ini banyak sekali masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh berbagai elemen. Masalah lingkungan hidup pada dasarnya timbul karena dinamika penduduk, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya yang kurang bijaksana, kurang terkendalinya pemanfaatan akan ilmu pengetahuan dan teknologi maju, dampak negatif yang sering timbul dan kemajuan ekonomi yang seharusnya positif, serta benturan tata ruang. Dewasa ini banyak industri-industri yang bermunculan diberbagai daerah. Banyak lahan kosong yang beralih fungsi menjadi lahan industri. Akibatnya lingkungan menjadi tidak seimbang dan ekosistem yang ada menjadi terancam habitatnya.
Industri Gula Madukismo yang terletak di Desa Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta adalah salah satu pabrik gula tertua di tanah air yang berdiri sejak tahun 1955. Dari kegiatan industri ini dapat menghasilkan limbah baik padat, cair, maupun gas yang yang dapat mengakibatkan lingkungan dan sekitarnya menjadi tercemar dan tidak sehat. Dengan kata lain bahwa kesehatan lingkungan di lokasi tersebut akan terganggu.
Informasi selengkapnya klik disini (.doc) klik ini (.ppt)
Description: Ekosistem Pertanian Kawasan PG.Madukismo Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Ekosistem Pertanian Kawasan PG.MadukismoBelajar Menulis dari Joanne Kathleen Rowling Penulis Novel Hary Potter
Sejak kecil, Rowling memang sudah memiliki kegemaran menulis. bahkan di usia 6 tahun, ia sudah mengarang sebuah cerita berjudul Rabbit. ia juga memiliki kegemaran tanpa malu-malu menunjukan karyanya kepada teman-teman dan orangtuanya. kebiasaan ini terus dipelihara hingga ia dewasa. daya imajinasi yang tinggi itu pula yang kemudian melambungkan namanya di dunia.
Akan tetapi, dalam kehidupan nyata, Rowling seperti tak henti disera masalah. keadaan yang miskin, yang bahkan membuat ia masuk dalam kategori pihak yang berhak memperoleh santunan orang miskin dari pemerintah Inggris, itu masih ia alami ketika Rowling menulis seri Harry Potter yang pertama. ditambah dengan perceraian yang ia alami, kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu dirinya untuk segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilik bernama Harry Potter yang idenya ia dapat saat sedang berada dalam sebuah kereta api. tahun 1995, dengan susah payah, karena tak memiliki uang untuk memfotocopy naskahnya, Rowling terpaksa menyalin naskahnya itu dengan mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual.
Naskah yang akhirnya selesai dengan perjuangan susah payah itu tidak lantas langsung diterima dan meledak di pasaran. berbagai penolakan dari pihak penerbit harus ia alami terlebih dahulu. diantaranya, adalah karena semula ia mengirim naskah dengan memakai nama aslinya, Joanne Rowling. pandangan meremehkan penulis wanita yang masih kuat membelenggu para penerbit dan kalangan perbukuan menyebabkan ia menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi JK Rowling. memakai dua huruf konsonan dengan harapan ia akan sama sukses dengan penulis cerita anak favoritnya CS Lewis.
Akhirnya keberhasilan pun tiba. Harry Potter luar biasa meledak dipasaran. semua itu tentu saja adalah hasil dari sikap pantang menyerah dan kerja keras yang luar biasa. tak ada kesukdedan yang dibayar dengan harga murah.
Wedding Traditions in Korea
The wedding traditions in Korea more known as taerye is the process of joining two families rather than two individual. In the past in Korea there are custom that separated meeting between men and women since they are seven years old, so they meet firstly when they married. The marriage can not be separated from a matchmaker that be an intermediary between two families and be a fortune teller that see the match between the two pairs by calculating the fortunes of each other, known as saju or four pillars and the views of the year, month, date and hour of birth of each of the prospective bride to how fortune would happen if they are married, and the process called with kunghap. If calculation of kunghap give good result, the next process is decide the time to marry, and it is known as napchae. The next process is called with chungmae, parents of them to give approval to marry.
Some days before the wedding ceremony, family of the groom gives a gift for family of the bride that called with napp’ae. The kinds of the gift are honseo (marriage letter), ch'aedan is two blue and red cloth for the fabric that symbolizes the balance of yin-yang style, and honsu-collection of jewelry for the bride from the prospective in-laws are packed in a box (ham) which delivered by the groom’s close friends and this process is done at night.
The wedding ceremony take place at bride’s house and it starts with exchanged greetings with each other and bent, this is called with gyobaerye. It is to symbolize the promise and commitment by both bride and groom to undergo ark household together. This is done by both of them and stood facing each other in marriage between a table filled with various objects that symbolize hope for a lasting marriage, ranging from red and blue yarn, candles, red beans, rice to a pair of mandarin ducks. The second step is hapgeunrye where they will drink from the same cup, to symbolize that each other is a half from the other and should complement each other to make one. Then they will be paired to then bowed together three times: one for the second pair of parents, one for the ancestors and one time for the guests. The groom then spent the night at the bride's house.
The next day, the bride and groom went to the groom's parents. On this occasion, the groom's parents will throw some foods and fruits that captured the bride and groom using a stretch fabric. Types of food and fruits are thrown symbolizes the groom's parents desire for grandchildren for parents and children for the second course, the newly married couple.
Description: Wedding Traditions in Korea Rating: 4.5 Reviewer: seputarwisata.com - ItemReviewed: Wedding Traditions in Korea